Teka-Teki

Malam itu Munawier sedang tidak sibuk, kami berkomunikasi dengan chat Whatsapp atau DM Instagram, berpindah aplikasi, begitu seterusnya. Banyak perbincangan yang kita bahas, aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Malih” dan dia memanggilku dengan sebutan “Jaenab”, itu merupakan nama akrab kami ketika sama-sama mulai geram jika salah satunya membuat kesal. Anehnya saat aku bertemu Munawier di Ampang kemarin, ada keganjalan yang aku rasakan dari pandangan matanya, entah apa aku belum bisa menemukannya. Munawier memang pribadi yang hangat dan ramah, dia tidak pernah berkata kasar, alih-alih malah dia yang sering memberi nasihat dan saran kepadaku. Menurutku Munawier adalah teki-teki yang sulit dipecahkan, aku meyakini bahwa banyak perempuan yang dibuat penasaran olehnya, sampai pada akhirnya aku berhasil menjadi orang terdekatnya. Yaa memang sesuai dugaanku, Munawier berbeda dengan yang lain, dia laki-laki yang aneh, dan sanget aneh.

Dia memang manusia langka, sangat langka. sampai buka hati saja sangat sulit, padahal aku sudah menunggu di depan pintu sejak lama, ada yang mengetuk pun tak dia pedulikan, jangankan bertanya itu siapa, menengok ke arah pintupun dia enggan. Aku merasa seperti kurir yang mengantarkan paket, yang tak kunjung dibukakan pintu oleh tuan rumahnya, hihihi.

“Aku gak bisa jelaskan, kamu gak bakalan ngerti, semua orang gak bakalan bisa mengerti, malam ini aku akan telepon ibu ku mungkin ada sedikit kenyamanan dari ibu, aku udah gak bisa mengedalikan lagi :'(

Aku hanya meringis membaca pesannya,

begitulah yang selalu diucapkan Munawier, aku sampai hafal ucapan-ucapannya saat dia menjadi sisi lain. Menurutku Munawier hanya sedikit perlu keikhlasan dari apa yang sudah menjadi rencana Tuhan, Munawier masih dihantui ketakutan dan kekhawatiran yang membuatnya tidak nyaman dan tidak tenang. Entah bagian dimana dia tidak bisa berfikir tenang dan selalu merasa waswas, ini bukan bagian depresi tapi adanya ketidaktenangan dalam psikologisnya. Aku merasakan kegelisahan yang dia alami hampir setiap malam, Munawier tidak bisa dibiarkan sendirian, dia butuh teman, teman berbicara, teman berbagi dan teman yang bisa memahami keluh kesahnya. Aku selalu mencoba masuk tapi Munawier tak pernah mengizinkan karena memang Munawier berasal dari pribadi yang tertutup, semua butuh waktu lama untuk benar-benar memahami bagaimana Munawier.

——————–

Karena ku tahu dia sedang tidak baik, dan menjadi sisi lain, aku selalu membuat bait-bait untuknya, kadang kukirim kepadanya, kadang hanya menjadi koleksiku saja,

——————-

-Himpitan Angan-

Mungkin hatimu sedang tidak bisa diajak kompromi,

hingga ku tak mampu menerka apa yang sedang kau alami,

Kau begitu tertutup dari segala peluang diri,

sampai-samapai ku merasa geram ketika kau selalu mengurung diri,

Prasangkaku……

Mungkin ku hanya pengusik yang tak punya toleransi,

atau mungkin pemerhati yang tak tahu diri,

Menurutmu ini misteri…..

Kita memang tak sering bertatap muka langsung,

tapi kuyakini kau butuh dibenahi, entah mengapa akupun tak mengerti,

Aku ingin beranjak dan tak ingun mempedulikanmu,

Namun sesaat hatiku merasa tersayat dan seolah tertahan erat oleh tatapan kosong pandanganmu kala itu,

Kau begitu rapuh, kau begitu lusuh, kau begitu pilu,

Aku???

Aku malu….

karena aku hanya sebatas pemerhati ulungmu,

tapi ku berusaha tuk meyakinimu, bahwa ada hal yang memang harus banyak kau tahu.

——————-

Pada hakikatnya setiap orang memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, bukan berarti orang itu akan berdiam berada di zona tersebut, barangkali dalam sekejap orang itu telah berubah lebih dari apa yang diperbincangkan.

Aku tau beberapa terakhir ini Munawier sedang tidak baik, seperti biasanya dia menghilang tanpa isyarat apapun. Jangankan menengok pesan, telepon berderingpun selalu dia abaikan. Aku mendiaminya, berpura mengabaikannya. Tapi aku tetap memantaunya dari kejauhan. Aku menunggu sampai dia mencariku, meskipun ku tau dia takkan pernah mencariku. Kita memang sama-sama terlanjur berada di zona nyaman, tapi tidak bisa memiliki angan lebih dari apa yang pernah kita rasa. Lonceng jam semakin berlari kencang menunggu kabar Munawier yang tak kunjung ada, entah dimana, bagaimana dan kejadian apa yang sedang di alami sekarang, aku benar-benar tidak tau. Memang aku sedang belajar untuk mengikhlaskan semuanya, belajar untuk melepaskan dia dari ingatanku, entah kapan akan terbebas dari Munawier, aku tidak tau. Aku hanya bisa menikmatinya, tanpa protes atau memberikan kritik kepada akal sehatku, entah ini manusiawi atau bukan, aku lebih memilih diam dibanding mengekspresikan apa yang ku rasa, jika nanti tiba waktu yang baik, pasti akan Tuhan tunjukan itu semua, tanpa diminta, tanpa dipaksa.

———————-

Aku selalu mengirim pesan saat menjelang Munawier beristirahat, entah dibaca atau tidak, aku tak peduli. Singkatnya, aku hanya ingin menjadi sosok penguat untuk Munawier, walaupun aku tak ada kekuatan sama sekali.

Bila saatnya nanti, kau dan aku akan kehilangan pengertian. Aku akan menangis tanpa air mata, sebab basahnya merembas ke dalam sukma. Mengairi seluruh telaga darah yang selama ini, merahnya indah dinyanyikan tembang pujian.

Tak ada kabut dalam jiwa, kau pun mudah mengerti segala apa yang kumaksud. Meski akhirnya, segala yang kusebut tidaklah menjadi yang dimaksud.

Saat itu, aku akan tetap berpikir, mungkin ada sedikit kabut dalam sukma, hingga kau mengira semua baik-baik saja. Dan ketika itu, kepadamu, aku tak pernah ingin hidangkan sungai di wajahku. Selamanya, wajahku adalah firdaus penghilang haus bagi jiwamu.

Bila saatnya nanti, kau dan aku kehilangan pengertian. Kita hanya perlu diam. Membiarkan hati yang selama ini bungkam, terbenam pada sudut lain. Seperti kita yang tak selamanya sama, kau melihat senja di barat, dan aku menemukan senja di matamu. Begitulah kita seharusnya, ketika kau menemukan diriku dari sebuah perkenalan, maka aku menemukanmu dalam sebuah kebersamaan. Percayalah, aku akan belajar mengenalmu seperti kepercayaan yang kubenamkan dimatamu. Tak pernah hilang, sebab tenggelam dan terbitnya, ada pada matamu.

Bila saatnya nanti, yang terucap bukanlah yang ingin kuungkap. Kuharap kau tetap tabah mencari-cariku dalam kumpulan perjalanan. Sebab yang terpendam, adalah kerendahan diriku yang terbenam, dan tak ingin kuterbitkan diufuk wajah ini. Padahal kau, adalah Munawier-ku yang mencintai senja dan fajar, kuingin menjadi keduanya yang muncul dalam benakmu.

Bila saatnya kita hanya bisa diam. Dan kikuk seketika sebab makna tak terungkap dengan baik. Janganlah berhenti memberi perhatian.

Kau dan aku, adalah perjalanan untuk saling kenal. Dan cinta adalah kita yang ingin terus lebih mengenal. Sebab mengenalmu, tak pernah selesai, meski ajal telah tergenggam.

Bila saatnya nanti, kita tak bisa saling kenal. Cukuplah sebut namaku pada batinmu.

Selamanya, kita akan sabar untuk mengenal.

Selamat sore wahai senja yang selalu ku rindukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *