Siapa Aku

Mengubur dalam-dalam perasaan yang sudah lama tertancap memang sulit dilakukan. Aku tidak menyadari mengapa aku bisa sampai sejauh ini, padahal kenyataannya aku telah jauh mengejar sesuatu yang memang tak pernah mau menoleh sekalipun. Semua sudah berkerak dan berkarat, aku harus membersihkan dan memulihkan semuanya seperti seolah saatku belum mengenal Munawier.

Aku tidak mengerti apa yang ku rasa, bagaimana cara untuk mengubur dalam perasaan ini. Yang aku tahu rasa ini masih tersimpan rapi, tak berkurang malah justru semakin bertambah. Seperti mengkalkulasikan bilangan prima, semakin ditambah semakin tak bisa terbagi. Perasaan ini selalu mengarah untuk merindukannya, rindu yang semakin sembilu. Meradang hatiku kerenanya, mengulang semua rindu dan menahan rindu yang tak sudah-sudah. Aku harus mengakhiri sesuatu yang tak pernah dimulai, ini rasaku sendiri, harap yang ku munculkan sendiri tanpa ku mengukur segala konsekuensinya. Aku yang salah dan sangat kusesali. Tapi di sisi lain aku bahagia, setidaknya aku bukan sebuah virus parasit obligat yang memberi pengaruh buruk kepada orang lain, tapi aku memberikan sedikit dukungan dan penguatan kepada Munawier saat dia benar-benar menjadi sisi lain, setidaknya aku sedikit bermanfaat.

Lambat laun ku mengira semua akan baik-baik saja tapi nyatanya ku salah, perasaanku semakin tumbuh tak menentu, akarnya semakin kuat menopang pondasi benih rasa yang terpupuk sejak perkenalan itu. Keyakinan yang mampu menghantarkanku ke tepian sampai saat ini, entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan spekulasi yang ku buat sendiri. Hidup memang pilihan tetapi ada satu yang tidak bisa dipilih, yaitu cinta. Ia tidak bisa dipaksakan apalagi sampai meronta untuk menerima bagaimana kita, untuk masuk ke dunia kita. Tidak semudah itu, semua butuh proses panjang, apa yang melewati kita belum tentu menjadi milik kita. Bisa jadi dia hanya menjadi pelajaran dan pengingat agar kita tidak lupa siapa kita, atau mungkin sebagian menjadi ujian iman kita gar kita tahu mana yang sebenarnya benar-benar pantas untuk bersanding seumur hidup. Perasaan bukan hal main-main, bukan hanya sekedar angin lalu. Ia adalah fitrah murni yang manusia miliki, asalkan kita tidak menyalahgunakan perasaan yang muncul itu, kita bisa arahkan agar tak lalai kepada Pemilik Cinta Sang Maha Cinta.

Berapa hari kemudian setelah ku mendengar jawaban dari keresahan hatiku terhadap firasat yang aku rasakan, perlahan aku mulai menjauhi Munawier, perlahan aku belajar tidak peduli bagaimana dia sekarang, perlahan mengabaikan setiap posting statusnya di media sosial. Aku mencoba dan terus mencoba sampai aku merasakan mati rasa kepadanya. Aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa, ini bukan ku yang mau bukan pula Munawier yang mau. Ini takdir yang harus aku terima. Tidak bisa ku menghindarinya. Layaknya jatuhnya daun, seerat apapun ia bergantung dan menempel pada ranting, ketika waktunya sudah tiba ia akan jatuh berguguran dengan sendirinya, baik cepat atau lambat, terhempas angin untuk dihilangkan keberadaannya.

Perasaanku masih menggumpal, hingga pada akhirnya aku menceritakan ini ke seorang temanku, Diah. Dia adalah sahabatku dari kecil, entah apa yang membuat kita sedekat sampai sedewasa ini.

“kenapa lu? muka lu kusut banget kaya pakaian belum di setrika?” tanya Diah dengan wajah terheran-heran.

“bingung gue asli, kok gue bodoh yaa, kenapa gak gue musnahin dari dulu” jawab lusuhku dengan menopang dagu diatas kedua tanganku dengan bibir manyun.

“emang dari dulu lu bodoh, baru sadar? kenapa lagi si lu? belum cerita udah men-judge diri kaya gitu! aneh gue mah!!!

“Munawier mau nikah, gue gak sedih tapi gue nyesel kenapa gue ada rasa sama dia sampai sejauh ini, padahal sikap dia biasa aja ke gue”

“Haaaaaah??? serius lu? demi apa lu?”

“Santai aja kali cuy, mata mau keluar gitu!, iya bener dia mau nikah loh, masa iya urusan sakral begini gue bohong”

“Kalau menurut gue lu gak salah, dan gak usah menyesali diri, sayang itu gak perlu alasan, sama kaya setiap pertanyaan yang selalu ada jawabankan? tapi dari awal kan gue udah ingetin ke lu supaya hati-hati sama perasaan lu sendiri yang suatu saat bakal jadi boomerang lu, terus kalau kaya gini lu mau apa? semua udah terjadi cuy? ini jawaban Tuhan atas apa yang lu minta, mau lu paksa Tuhan supaya Dia jodohin lu sama Munawier? emang lu fikir lu siapa bisa ngatur-ngatur Tuhan? sekarang intropeksi diri aja gimana lu, dan lebih berhati-hati lagi kalau ada kejadian serupa gini lagi, belajar ikhlas itu susah cuy tapi gue yakin lu bisa, toh juga lu udah gak ketemu sama Munawier lagi, jadi gak usah risau, ada gue disini”.

Aku hanya memandangi dan memahami jawaban Diah, tanpa menjawab hanya mengangguk dan termangu. Benar yang Diah ucapkan, Diah berusaha meluruskan logikaku agar tak terlalu menyesali apa yang sudah terjadi, semua adalah fitrah dan takdir. Ini adalah takdir baikku, Tuhan mematahkan hatiku karena aku memiliki perasaan yang seharusnya bisa kukendalikan sejak dua tahun silam semenjak ku mengenal Munawier, setelah ini pasti ada kejadian luar biasa yang melebihi dari segala dugaanku, pintaku, dan harapanku.

Siapa Aku

aku tidak membiarkannya tumbuh

aku tidak membiarkannya mati

aku hanya membiarkannya mengalir mengikuti arus

tidak mengekang, tidak membatasi

tidak menutup, tidak meronta

entah apa yang membuatku semakin tak mengerti

makin hari makin menjadi

makin bertumbuh makin menggebu

tersipu, termangu, terdiam, tergelitik

ragu bukan rancu

percaya bukan tak terarah

bukan kamu tapi aku

aku yang mengikutimu

sampai aku lupa siapa aku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *