Semua Berawal dari Prasangka

Semua Berawal dari Prasangka

Seperti halnya kemarin, aku mencoba memenuhi undangan panggilan tes mengajar di SDIT Hiro Qur’anic School untuk mendaftar sebagai guru pendidik atau staff tata usaha di sekolah tersebut. Sesampainya disana aku mengisi biodata lengkap ku, dan mengisi jawaban tes tulisan yang diberikan oleh salah satu pegawainya. Setelah tes tulisan selesai kemudian aku diarahkan untuk di wawancarai oleh pegawai bagian direktorat disana. Ada beberapa serangkaian pertanyaam yang dilontarkan kepadaku, salah satu diantaranya tentang kesiapanku dalam menerima tantangan baru, yaitu sambil mengajar sambil menghafal Qur’an. Karena disana memiliki program sekolah karakter untuk peserta didik, selain peserta didik atau anak yang diberikan target dalam menghafal Qur’an dan diberikan pengertian kesadaran dalam ibadah atau toleransi soft skills lainnya, yang nantinya akan membuat anak memiliki sikap toleransi dan tanggung jawab kepada diri sendiri. Demikian dengan guru pendidikpun yang di tuntut untuk melakukan penanaman dan pendoktrinan diri seperti yang diprogramkan kepada peserta didik. Lima belas menit aku berada di ruang direktorat saat sesi wawancara. Sesi wawancara dengan pegawai direktorat, kemudian berlanjut pada sesi micro teaching, disinilah adrenalinku merasa tertantang karena yang aku beri contoh pengajaran adalah guru-guru pendidik yang akan menilai bagaimana cara mengajarku. Salah ucap atau materi itu bisa menjadi boomerang diriku sendiri. Beruntungnya aku mendapatkan materi tentang pengetahuan alam oleh pihak penguji yang sedikit banyak sudah aku kuasai. Saat rekaman diputar aku memulai micro teaching tersebut dengan menyampaikan materi tentang bunyi. Aku merasa demam panggung, sampai aku terbata-bata dalam menyuarakan ide materi tersebut.

Saat micro teaching berlangsung, salah seorang guru yang seolah-olah menjadi siswa ku saat ujian tersebut memberikan pertanyaan tentang materi yang kusampaikan,

“Mis aku mau tanya dong, kalau kentut kenapa bisa bunyi?”

Layaknya menjawab kepada seorang anak kecil, gurauan dan mata berkeliling agar mereka tertarik dengan bahsan yang aku berikan

“Oke baik akan mis jawab, kenapa kentut bisa bunyi? karena tekanan gas dalam perut  terlalu besar sehingga suara kentut ditentukan oleh seberapa cepat dorongan gas-gas dari dalam perut untuk keluar. Sama halnya dengan balon yang  terisi dengan gas, semakin banyak tekanan udara yang masuk di dalam balon makan semakin besar suara ledakan balon saat dipecahkan”. Jawabku dengan santai agar tidak salah dalam berucap.

Pertanyaan jebakan yang membuat bulu kudukku semakin tak karuan.

Micro teachingpun berlalu, kemudian aku diarahkan ke ruang kepala sekolah untuk wawancara terakhir sebelum penentuan apakah aku layak diterima sebagai guru pendidik di sekolah tersebut. Kurang lebih dua puluh menit durasi wawancara yang dilakukan kepala sekolah. Aku langsung bergegas pulang ke rumah saat wawancara berakhir, kepala sekolah memberi informasi  kepadaku jika aku lulus dalam tahap seleksi  ini maka aku akan dikonfirmasi melalui telepon.

Entah mengapa prasangkaku tidak yakin di terima di lembaga itu, bukan karena serangkaian tes yang kujalani, karena ijazah sarjanaku yang bukan berasal dari basic pendidikan. Tapi karena aku hanya seorang lulusan administrasi publik dari universitas swasta, sesuai dengan harapanku yang ingin menjadi pelayan atau melayani masyarakat secara prima, baik dari bidang sosial, spiritual, moral dan sebagainya, oleh karena itu aku mengambil jurusan administrasi publik sebagai acuan literaturku agar bisa terjun langsung ke masyarakat, mengetahui kondisi asli keadaan masyarakat yang sebenarnya, karena menurut pandanganku hidup itu melayani bukan dilayani.

Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa teman mengajarku di MI Nurul Iman mengundurkan diri dan tidak dapat melanjutkan perjuangannya. Seperti tersambar petir mendengar keputusan temanku, karena menurutku dia adalah partner dimana ku bisa menggali ilmu lain ketika akun sulit memahami anak-anak. Tapi semua itu memang pilihan hidup, harus bagaimana dan menjadi apa kita sendiri yang tentukan bukan orang lain. Siang harinya aku mendapatkan panggilan telepon dari SDIT Hiro Qur’anic School untuk konfirmasi kelulusan tes dan wawancaraku. Aku bingung dan tak tau harus menghadiri undangan itu lagi atau tidak, saat diteleponpun aku menjawab dengan nada yang tidak meyakinkan. Sampai akhirnya aku memberi keputusan tidak bisa ikut bergabung dengan lembaga itu, karena aku tidak ingin menjadi sebab akibat orang lain kesusahan karena keputusanku. Dan aku mengurungkan niatku untuk mengundurkan diri dari dua tempat yang biasa ku beraktifitas. Aku tidak ingin membuat keputusan fatal, tidak akan.

Sore hari aku pergi menonton ke bioskop bersama teman mengajarku dari SMP Terbuka Fajar Harapan, kami berlima diajak oleh salah satu anggota volunteer bekasi yang bernama Bunda Milla dan anak bungsunya untuk menonton bersama. Selesai menonton kami pergi makan di dekat Mall tersebut, dengan saling bertukar fikiran dan sharing tentang basic sekolah yang kami handle, sampai akhirnya air mata pun tumpah ruah saat kami saling bertukar pengalaman. Semua memang sudah menjadi skenario Tuhan kepada makhluk ciptaannya, mungkin memang berat aku melangkahkan kaki jauh dari zona nyamanku. Yaa semua berawal dari rasa ingin berontak dari keadaan, tapi aku berfikir mengapa seperti manusia yang tak mengenal Tuhan, padahal apa-apa yang aku terima dan miliki semua sudah menjadi sebagian rencana Tuhan. Sejauh apapun aku melangkah sekuat apapun kita menggenggam, sekeras apapun kita menahan agar tidak pergi, sehebat apapun kita menjaga jika Tuhan tak izinkan untuk memiliki yaa sesuatu itu tak akan pernah jadi milik kita. Pun sebaliknya jika Tuhan izinkan untuk menjadi bagian dari hidup kita atau milik kita maka tak perlu melangkah sejauh apapun Tuhan akan berikannya untuk kita dari jalan yang tiada terduga. Untuk saat ini mungkin aku diperintah untuk sabar dan tawakkal dari apa yang sedang terjadi, semua berawal dari prasangka kita kepada Tuhan maka jangan sampai kita memiliki prasangka yang tidak baik kepada Tuhan yang menciptakan kita.

Kalau dikategorikan kehilangan yaa memang aku sangat kehilangan semenjak aku gagal di 2013 silam, manusiawi kalau aku hampir putus asa, mau pura-pura sekuat apapun tetap pada akhirnya rapuh juga, aku benar-benar merasakan titik terlemah, dan seolah tidak memiliki siapa-siapa dan semua mendadak menjauh, jatuh bangun dan terus bangkit dari kondisi yang membuatku semakin melemah, tapi bukan berarti mengiba belas kasih atau meronta-ronta sampai adanya tetesan air mata darah agar tetap bertahan dalam suatu sandaran, menurutku itu bukan cara yang baik dalam menafsirkan takdir Tuhan tentang filosofi nyatanya kehidupan. Mungkin saat ini memang sedang diistirahatkan sejenak agar tidak salah langkah dalam pengambulan keputusan dari setiap sudut pandang masing-masing manusia. Semoga selalu ada hal baru yang bisa diambil hikmah dan manfaatnya. Semoga Tuhan menyemogakan kesemogaan yang selalu disemogakan.

————————–

Secarik bait yang kubuat, saat semua pergi menjauh atau mungkin aku yang terlanjur jauh menarik diri,

——————–

Menopang Pilu

mungkin langit dan bumi sudah tak akan pernah menerima.

hingga pada akhirnya akupun semakin temaram tak tentu arah.

aku bersih keras tak ingin menyudahi dan meninggalkan segala sesuatu yang kuendapkan sejak lama.

namun asaku telah menolak segala upaya yang telah berlarut sia-sia.

aku merasa tak ada lagi ruang hampa yang mampu menerima keberadaanku.

semua telah tertutup rapat dari segala penjuru.

aku malu, ragu dan pilu.

hingga akhirnya ku beranikan melangkah meskipun tak pasti jalan mana yang kutuju.

ketika ini usai, ku akan tinggalkan semuanya yang membuatku pilu.

meski berat langkah untuk meyakinkan.

tapi kupaksakan agar kian tak menjadi cemoohan.

Ranting Patah,

Rizqo Utami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *