I am Loosing in My Mind

I am Loosing in My Mind

Ternyata separuh sayapku tertinggal di negeri itu, hingga kemudian aku tak bisa beranjak jauh, dan masih menetap di keadaan yang membuatku seolah terbelenggu.

Entah bagaimana aku akan memulai kisahku, entah bagaimana aku merajut cerita yang tokoh sebenarnya saja sudah menghilang antah berantah dari dasar hati. Bukan dari dasar hati, tapi dari ingatan yang terpaksa kuusir dalam kenangan, bayangannya semakin menyayat dalam ingatan, dan nafasku semakin sesak dan terjebak dalam lamunan.

Entah perasaan macam apa ini, yang membuat ku seolah terbelenggu, kesakitan yang semakin sekarat atas apa yang telah aku buat. Setelah bertemu Munawier di Ampang kala itu, perasaanku semakin aneh, semakin tak bisa kufahami, entah apa maunya hati, entah sihir dan mantera apa yang berhasil dikeluarkan Munawier hingga aku terperangkap dalam sikapnya yang lemah lembut, tak sekata kasarpun yang keluar dari ucapannya, sangat menuntun dan mengayomi, dia sangat berbeda. Aku memang tidak pernah mengetahui siapa yang akan menjadi masa depanku, yang aku tau, saat aku melihatnya, aku tenang.

Malam itu memang perasaanku sedang kacau balau, aku meyakini bahwa memang akan ada sesuatu yang akan terjadi, aku tidak tau. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan baik, tidak seperti malam biasanya, bagaimana aku bisa menjelaskan sedangkan aku saja tak mengetahui apa yang terjadi padaku. Setiap dalam keadaan ini aku selalu menghubungi Munawier, dialah orang yang telah tebal telinga saat mendengar ceritaku, lambat laun pembicaraan kita semakin serius, sampai Munawier mengira aku sedang tidak sehat.

“Kamu lagi dimana bang?”

“Aku di kedai, usai makan diluar. Kenapa jam segini belum tidur? besok demam kalo gak dipaksa tidur tu”

“Pundak kiriku sakit, jadi sulit untuk tidur, kamu gak futsal?”

“Kenapa pula pundak kamu? udah diberi obat? Aku gak futsal, gak ada tanding malam ni”

“Oh ku kira kamu ada jadwal latihan, bang aku mau tanya boleh?”

“gak ada jadwal latihan pula malam ini, tanya apa?”

“Aku boleh ketemu Mama kamu bang?”

“Untuk apa? kamu sehat? Mamaku kan jauh di Aceh!”.

“Untuk kenal dekat, aku sehat kok, iya aku juga tau kalo Mama kamu di Aceh”

“Kan kamu udah kenal Mama aku, aneh-aneh aja kamu ini”

“Kan aku tanya ke kamu, kamu jawabnya boleh atau gak?”

“Ya boleh, tapi mau ngapain dulu kamu ni serius dong!”

“Keliatannya lagi serius atau bercanda?”

“Iya serius, aku tau kamu kok, terus mau ngapain ketemu Mama aku?”

“Ya gak mau ngapa-ngapain, aku cuma mau izin dulu ke mama kamu, setuju gak mama kamu kalau kamu sama aku, restu dan ridho lelaki kan letak ada di ibunya.”

“Ya nanti ketemu yaa kalo udah waktunya, tunggu aja”.

Aku sangat mengetahui dan mengerti bahwa Munawier shock saat aku beri pernyataan seperti itu kepadanya, mungkin menurut akal sehatnya pertanyaan konyol macam apa yang dilontarkan perempuan yang tak pernah serius saat diajak bicara oleh Munawier, aku memang typical orang yang sulit ditebak kapan aku mengungkapkan sesuatu yang serius atau yang main-main. Aku menyadari ini kesalahan terbesarku membahas tentang perihal ini, akupun merasa ini di luar nalarku berbicara seperti itu kepada Munawier seperti kehilangan kendali, seperti aku hilang di dasar pikiranku sendiri, sampai akhirnya Munawier menghilang.

Aku mengetahui Munawier menghilangkan jejak saat setelah dia melihat statusku di Whatsapp, selang beberapa menit kemudian Munawier tidak mengaktifkan sosial media dan nomer teleponnya. Munawier memang typical orang yang hanya ingin sendiri dan menyendiri jika hati dan fikirannya sedang tidak baik dan stabil, aku juga tidak heran dia bertindak seperti ini. Tapi kali ini dia menghilang karena kesalahanku, kesalahan yang tidak seharusnya aku bahas saat itu, kesalahan yang membuat semuanya kacau balau. Aku menyesal, aaaaaaahhhh!

Aku tidak tinggal diam dan hanya menunggu kabar begitu saja dengan sia-sia, aku mencari tau keberadaan dimana Munawier kepada temannya, aku menghubungi⁰ temannya dan meminta tolong kepadanya. Selain itu aku juga mengaktifkan akun facebook-ku kembali untuk melacak keberadaan Munawier, aku tidak akan bisa tenang jika kesalahan yang ku buat tidak cepat kutuntaskan. Beruntungnya satu jam sebelumnya Munawier aktif, aku kirim pesan melalui facebook, menanyakan perihal keberadaannya dan meminta maaf atas kejadian yang membuat dia menjadi orang asing seperti ini. Aku benar-benar menyesal telah memberi pertanyaan konyol dan tidak masuk akal, sampai akhirnya Munawier membalas pesanku satu jam kemudian.

“Hahaha hp aku rusak, aku banting sampai hancur sebab kesal macet, bukan menghilang atau ganti nomer , ini mau ambil hp baru nanti juga pakai lagi nomer yang lama, iyaa maaf lagian mau kasih tau gimana hp aku tiba-tiba mati udah pula hp satu-satunya, ini pakai hp kedai”. Balasan pesan Munawier yang buat aku tercengang meringis dan tergelitik.

Aku ini kenapa? apa yang terjadi pada pikiranku? apa yang terjadi dengan perasaanku. Prasangkaku yang mengalahkan pikiran positifku. Akupun merasakan kebimbangan hati Munawier, entah apa saat aku melihat balasan pesan darinya, balasan yang ambigu, seolah alibi untuk menenangkan diri.

Selang seminggu kemudian, Munawier mulai aktif di sosial media, entah apa yang membuatku menjadi sebahagia ini ketika Munawier tidak benar-benar hilang. Perasaan yakin yang begitu kuat terhadap Munawier yang membuatku bertahan sampai sejauh ini, meski aku tidak pernah tau bagaimana Munawier terhadapku, aku tidak ingin tau, dan tidak peduli. Sekembalinya Munawier, kami kembali berkomunikasi dengan normal seperti biasanya, sampai pada suatu malam aku melontarkan pertanyaan tidak masuk akal kepada Munawier, entah apa yang  sedang aku fikirkan, rumit barangkali.

“Jika suatu hari nanti aku menghilang tiba-tiba tanpa kabar, apa kamu bakal cari aku?”. Lontaran pertanyaan yang ku utarakan kepada Munawier dengan lugu.

“Emang kamu niat mau hilang? Yaa aku bakal cari tau kamu kemana!” Jawab singkat Munawier.

Sedikit senang, namun banyak khawatir tentang ini. Mungkin aku yang terlalu berandai-andai dan perasaanku yang semakin menggelembung sulit untuk dihilangkan. Perasaan memang tidak perlu dimusnahkan, tapi dikendalikan. Bagaimana kita bisa mengolah perasaan itu, yang hampir 2 tahun lapuk terbendung pada sudut hati yang paling dalam, yang tidak bisa terjamah, yang tidak terlihat oleh siapapun. Aku ini memang aneh, mengaguminya tanpa dicintainya, tak berharap dapat memiliki, tapi berharap dapat yang terbaik dari pilihan Tuhan.

Sempat aku melangitkan namanya setiap malam saat aku bermunajat pada Tuhan, setiap hari dan terus berulang-ulang tanpa bosan. Tapi lambat laun ku tersadar, bahwa apa yang ku anggap baik belum tentu baik dihadapan Tuhan, dan apa yang ku anggap buruk belum tentu buruk di hadapan Tuhan, Allah azza wajalla’.

Saat ini aku hanya bisa berpasrah dengan siapa aku akan disandingkan, benar-benar ku mencoba mengosongkan perasaan yang tertancap dalam pada sosok Munawier sampai saat ini, bertahan pada diamnya, berselisih pada masalalunya. Aku hanya perempuan yang berupaya tau diri siapa aku dan bagaimana aku, entah untuk Munawier atau lelaki yang menjadi suamiku nanti.

Kini aku yang akan berusaha menghilang dari hidup Munawier, tidak menghampiri atau mengganggunya, aku tidak ingin memberi beban dan mengacaukan fikirannya seperti yang sudah-sudah. Aku yang salah, sudah terlalu lama berdiri di depan pintu yang tak pernah terbuka meskipun sudah berkali-kali ku ketuk dan memaksa tuk masuk, pintu itu terkunci rapat dan hilang pembuka kunci yang sudah antah berantah. Aku selalu menyangkal pintu itu akan terbuka, yang kenyataannya sama sekali tidak. Terlalu naif hingga aku lupa diri. Kenyataannya kisah itu telah sekarat, tersesat dan terlalu banyak makna tersirat dari batas ambang di Kota Ampang. Aku berusaha berjalan mundur untuk menelisik strategi awal, berjalan maju untuk menapaki masa depan. hidup adalah pilihan, ada yang dipilih, ada juga yang dikorbankan.

————————-

Aku Menyangkal

aku tidak bisa menyangkal rasaku sendiri,

rasa yang telah kumatikan sejak lama, sejak luka itu ada.

luka yang telah mendarah daging seumur hidup, luka yang membuatku sulit untuk bernafas.

luka yang menolakku untuk ada disisi hidup orang lain.

aku terperangkap dalam ruang gelap yang tak bercahaya sedikitpun.

tak mampu mengintai dan memandang kebahagiaan yang sebenarnya ada di depan mata.

aku menyangkalnya, dan aku telah menipu hatiku sendiri.

yang sebenarnya aku membutuhkan pundakmu, membutuhkan rasa untuk menguatkanku.

tapi aku ragu, dan ingin menyudahinya meski aku tak pernah memulainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *