Hujan di Penghujung Juni

Hujan di Penghujung Juni

Kala itu memang aku bergegas meninggalkan Kota Jakarta yang penuh dengan kenangan dan teka-teki. Meski meninggalkan makna tersirat dari Kota Jakarta, tapi tak menghalangiku untuk hijrah saat itu.

Mungkin aku adalah perempuan yang pergi hanya dengan bermodal nekat, tanpa persiapan dokumen penting dan perijinan pasti dari pemerintah. Yaa begitulah hidup, kadang harus bernyali besar untuk mencoba hal yang baru.

Aku berangkat meninggalkan ibu kota dengan diantar bapak sampai stasiun bis damri menuju bandara soekarno hatta, dengan wajah penuh cemas dan harap, melepaskan kepergianku penuh dengan kedukaan. Bapak saat itu berusia 59 tahun, masih semangat untuk bekerja dan pantang menyerah. Bapakpun yang mengajariku bagaimana caranya berjuang dan berdiri di atas kaki sendiri, berjuang merubah takdir buruk menjadi takdir baik. Yaa semua sikap nekat dan pemberaniku keturunan Bapak, karena dalam analisis percobaan Mendel (Perkawinan Silang) menyatakan bahwa sifat dominan seorang Ayah akan diturunkan kepada anak perempuannya, dan sifat dominan seorang Ibu akan diturunkan kepada anak laki-lakinya.

Risau bukan kepalang, selama perjalanan Bapak selalu mengirim pesan bagaimana keadaanku, memberi motivasi, tak lamapun handphone-ku berdering

“Assalamualaikum, iyaa pak, kenapa?”

“Walaikumsalam, kamu udah sampai mana? ingat yaa pesan bapak, kamu jangan cengeng”.

“Baru turun dari bis pak, sekarang mau check-in tiket dulu, iyaa insya Allah aku selalu ingat, nanti aku telepon lagi yaa pak.

Teleponpun ku matikan, setelah bapak berucap hati-hati dan salam. Pesawat yang akan ku tumpangipun delay 30 menit dari jadwal penerbangan. Jujur ini adalah pengalaman pertama naik pesawat dan seorang diri, gugup dan takut bercampur jadi satu. Akhirnya pesawa KLM-0810 pun berangkat menuju kuala lumpur, dengan dibekali sebuah buku karya Yuval Noah Harari sebagai pereda rasa takut saat penerbangan.

Bukan gugup karena pertama kalinya menaiki pesawat, yang aku cemaskan dalam pesawat yaitu apakah aku akan berjumpa dengan temanku, apakah aku akan berjumpa dengan saudaraku, apakah aku akan mendapatkan apa yang aku cari? karena aku tidak menguasai negeri jiran ini, tidak seperti di Indonesia yang masih bisa aku kendalikan sendiri.

Sesampainya di Bandara Kuala Lumpur, aku bergegas mencari penjual tiket bis ke KL sentral, tiketpun kudapati tapi kartu handphone-ku belum terganti, masih ada waktu sekitar 18 menit menunggu bis ke KL sentral, akupun berlari dan nencari penjual kartu di sekitar bandara. Kartuku telah terganti tapi na’asnya aku tertinggal bis menuju KL sentral, sedih seolah hilang harapan, kakiku mendadak lemas saat itu juga. Tapi salah seorang petugas tiket memberi informasi bahwa ada bis terakhir menuju KL sentral pukul 12.30 waktu Kuala Lumpur (sejam lebih awal dari Jakarta), setelah 45 menit menunggu bis pun datang.

Hampir 1 jam perjalanan menuju KL sentral, ternyata temanku telah menunggu kedatanganku di KL sentral hampir 3 jam. Aku sungguh tidak tega karena kecerobohanku akibat tertinggal bis yang berangkat sejam lebih awal.

Akhirnya aku tiba di KL sentral, aku canggung dan bingung mencari dimana temanku, dengan tangan gemetar dan jantung berdegup kencang aku memberanikan diri meneleponnya dengan nomer handphone-ku yang kubeli di bandara.

“Hallo, kamu dimana? aku udah di KL sentral, tempat penurunan penumpang, di depan tulisan “SKY BUS”. rentetan ucapan ku saat meneleponnya.

“Yaa hallo, aku di depan KL sentral, yaudah tunggu disitu aja, jangan kemana-mana”. tukasnya.

5 menit kemudian dia pun datang dari arah berlawanan kedatangan bis, aku bahagia bukan kepalang, sama-sama berlari menghampiri. Aku memeluknya tanpa sengaja, gerakan reflek karena respon kegembiraan hati sebab Tuhan memberi waktu yang baik bertemu orang baik seperti dia. Kekhawatiranpun musnah, tangan semakin gemetar, gugup semakin meningkat, tapi aku merasa ada harapan baru setelah ku bertatap muka langsung dengannya. Entahlah itu apa. Aku meyakini ada rahasia Tuhan yang dititipkan melaluinya, Wallahu a’lam. Kami mencari hotel untukku beristirahat, dia memilihkan lokasi yabg tidak jauh dari tempat dia bekerja.

“Kedaiku disana, kamu kusewakan hotel dekat sini, supaya aku bisa pantau kamu dan kalau ada apa-apa tidak terlalu jauh”. ucapnya sambil menujukkan lokasi dimana dia bekerja.

Aku hanya mengangguk malu, sambil memberikan senyum kecil. Dua malam ku disewakan hotel, tanpaku mengeluarkan uang dari kocek sendiri. Allahu Yarham, malaikat yang Tuhan kirim pada malam pukul 02.00 itu.

Saat makan di dekat tempat dia bekerja, aku mengutarakan apa maksud dan tujuanku hijrah ke negara ini.

“Aku kesini selain menggugurkan janji, aku juga ingin mencari kerja disini, lusa aku harus bertemu saudaraku di Damansara, apa kamu bisa antar?”. Tanyaku dengan mata menanar.

“Kamu yakin mau kerja disini? Disini tuh gak kaya di Jakarta yang mudah kamu akses, dua hari kamu istirahat dulu di hotel, hari kamis baru ku antar ke tempat saudaramu, jangan bandel, kamu harus nurut sama aku”. Jawaban lugas yang penuh keraguan.

Tindakanku memang nekat, tapi ku sudah fikirkan matang-matang sebelum melangkah, semoga Tuhan selalu membersamai.

———————

Hari pertama di Kota Ampang, aku berlaga sok tau mencari tempat yang menjual makanan sampai tiga kali salah jalan, hehehe namanya juga sok tau. Akhirnya aku menemukan tempat yang dicari, supermarket dengan nama Pasar Raya Big di Kota Ampang adalah yang aku tuju setelah diberi rekomendasi dari temanku. Tapi ternyata bukan Pasar Raya itu yang dia maksud, Pasar Raya yang dia maksud sedang ada renovasi dan banyak pekerja kontraktor yang membenahinya.

Aku hanya membeli air minum dan kebutuhan untuk mencuci pakaian, karena aku tidak biasa meninggalkan pakaian kotor saat bepergian. Belum terbiasa dengan makanan disini, aku memilih KFC sebagai menu sarapanku. Aku menelepon temanku dengan tujuan jngin membelikan maka untuknya, kala itu pukul 10.00, mungkin temanku masih tertidur akibat menemaniku ngobrol sampai pukul 04.00 dini hari.

Selang beberapa lama ketika aku tiba di hotel setelah mengelilingi Pasar Raya, temanku menelepon

“kamu dimana?”

“di hotel, baru balik dari pasar raya”

“kamu mau makan apa? ayam penyet aja yaa!”

“yaudah”

dia mematikan telepon, dia yang bertanya dia yang menjawab. aku tak heran dengannya. Begitulah El-Munawier, sosok lelaki yang begitu dingin sampai membuatku bertanya dan penasaran dengan sikapnya, apa dia tak tertarik dengan perempuan? ah sudahlah. Tapi semua berbanding terbalik dengan sikap saat di media sosial yang begitu dingin, ketika sudah bertemu perhatian dan kepeduliannya sangat menakjubkan buat aku terkejut. Tuhan kirimkan malaikat penolong di saat aku sedang dalam kebingungan, yaitu El-Munawier.

El-Munawier, pemuda asal tanah Rencong (Aceh) yang usianya 3 tahun lebih muda dariku, tapi sikapnya lebih dewasa. Sosok yang begitu angkuh saat aku belum kenal dekat dengannya pada tahun 2017. Rencana berkunjung ke Negeri Jiran sudah kurencanakan pada pertengahan tahun lalu di 2018, tapi karena ada suatu hal yang membuat aku down dan membuat aku merasa kehilangan harapan sehingga niat itu aku urungkan menjadi tahun ini.

Munawier pun tidak pernah menyangka akan bertemu dengan sosok perempuan sepertiku, yang selalu salah faham saat selisih berbeda pendapat dengannya. Namanya juga perempuan pasti merasa selalu benar, bukan begitu? hehehe.

Itulah takdir, kita tidak pernah tau kapan Tuhan memberi waktu yang baik untuk saling berjabat tangan.

Ada kecemasan yang terbesit dalam pandangannya di hari terakhir aku di Ampang.

“di Damansara nanti kamu ketemu siapa? kamu yakin mau kerja dan tinggal disini?” pertanyaan yang sering Munawier ucapkan selama aku tiba di Kota ini. Mungkin karena aku perempuan dan sendirian, atau mungkin ada perasaan lain. Ah sudahlah aku terlalu banyak angan, hehehe.

Selama kenal dengan Munawier tak pernah aku dapati tingkah anehnya, itupun kudapati ketika dia badmood, pasti selalu menghilang seperti jurus 1000 bayangan yang dikeluarkan Naruto. Ketika sedang merasakan tidak enak hati pasti dia tidak ingin diganggu, bahkan sampai mencopot aplikasi Whatsapp.

Awalnya sempat shock terapy ketika kita pernah salah faham di tahun 2018 lalu, tepatnya pada hari raya idul fitri. Ketika itu kita sedang debat mengenai niatku ingin datang menemuinya, dia tidak mengizinkan pada waktu itu, mungkin karena ada sesuatu hal yang benar-benar masih dia rahasiakan, atau mungkin aku yang terlalu memaksakan diri untuk bertemu dengannya. Saat kejadian itu sikapnya pun menjadi sangat dingin, seolah benar-benar sudah tak ingin dihubungi. 2 minggu tak memberi kabar seperti biasanya, tak membalas pesan apalagi menjawab telepon. aku bingung untuk melakukan apa, sampai aku memesan tiket untuk menjumpainya dan meminta maaf atas segala kekeliruanku. Tapi kala itu dia marah dan tak mau diganggu lagi.

“Udah yaa gak usah ganggu aku lagi, aku gak mau karena ucapanku aku jadi sebab akibat orang lain sakit hati, gak usah hampiri aku, aku gak ada di tempat, simpan aja uangmu buat keperluan yang lain, gak usah peduliin aku”. Balasan pesan yang membuatku menggelitik dan bingung, ada apa dengannya, hanya karena salah faham sampai seperti ini.

Lambat laun sikapnya meluluh, entah mantra apa yang aku keluarkan, seolah aku memahami bagaimana dia, dan diapun meminta maaf atas segala sikapnya selama ini.

Aku juga tak memahami, aku merasakan Chemistry dari dirinya, seolah aku memiliki firasat yang selalu benar tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ketika dia sedang kacau aku selalu membuatkan puisi untuknya, seolah akulah yang mampu membenahi kekacauan perasaannya, Entahlah. Bagaimana aku bisa seperti ini? menyebalkan.

Puisi untuk El

“El”

jangan membuat khawatir jika tak ingin dibuat khawatir.

aku selalu menunggu redammu ketika kau sedang menjadi sisi lain.

aku tak bisa menjauhimu disaat kau memintaku tuk menjauh.

aku tak bisa mendiamimu ketika kau sedang tak menentu.

aku ingin kau tetap membaik.

berpijak pada dua kaki kokohmu yang menjadi topanganku jua.

aku tak peduli bagaimana keadaan hatimu.

yang aku perhatikan bagaimana kamu menjadikanku yg berbeda dari yang lain.

aku tahu bagimu ini sulit.

sesosok angkuh macam ku yang tak bisa kau jumpai sesering mungkin.

tapi doa ku selalu tertuju untuk segala kebaikanmu.

aku ingin kau tetap kuat bah karang diterpa ayunan ombak

meski ku tahu keadaan hatimu serapuh tangkai ilalang.

tersenyumlah senjaku, meski ku tahu terpaan ujian yang sedang menghujanimu.

Sincerely,

Rizqo Uthami.

————————–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *