Bungkam

Setelah kepulanganku dari Malaysia, aku merasa diri semakin asing saat aku menginjakkan kaki lagi di rumah, aku tak bermaksud untuk mempermainkan semuanya, tapi memang keadaanlah yang membuatku harus kembali lagi ke rumah. Ada beberapa pihak yang sangat berbahagia saat aku memutuskan hijrah dan tak ingin kembali ke rumah. Tapi ada pihak yang benar-benar merasa kehilangan dan meradang saat aku berada di Malaysia, karena air mata yang keluar bukan air mata kepura-puraan melepas kepergianku saat itu, tapi air mata yang membuatku tak mampu menyeka dan terasa sesak saat meninggalkannya. Saat itu aku memang seperti orang yang kehilangan akal, tidak bisa mengambil keputusan matang-matang. Hingga akhirnya aku yang terdampar dengan pilihanku sendiri. Memang benar nekat dan gila itu beda tipis, aku dikategorikan dalam kondisi dikeduanya, tapi aku sungguh tidak peduli. Aku mengambil tindakan itu semata-mata ingin memberi kebahagian kepada Bapakku yang sudah banyak kehilangan harta benda karena kecerobahan dan kekeliruanku, hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Negeri Jiran yang sebelumnya belum pernah aku jamah. Saat di sana pun perasaanku tertinggal dan tak tenang memikirkan Bapak, orang tua tunggalku, orang tuaku satu-satunya setelah ibu meninggal 2003 silam.

Aku merasa kehilangan sayapku, bukan patah bukan pula rapuh, tapi benar-benar lenyap sirna di makan usangnya waktu. Aku seperti hilang ingatan, tak mampu berdiri sendiri tak bisa diajak kompromi, tak bisa mengendalikan emosi. Aku hancur sehancur-hancurnya, berkeping-berkeping, berserakan dan tak bisa disatukan seperti semula. Mata yang berbinar, suara lirih penuh kerinduan dan keraguan yang selalu ditampakkan oleh Bapak pun sering tertangkap oleh kelusuhan asaku yang semakin tak bisa kurencanakan. Bapak kehilangan sosok itu, sosok istri yang selalu sabar dalam hal apapun, seorang istri yang tak pernah membantah satu katapun perintah atau marahnya. Ingin mengembalikan keadaan seperti semula, tapi aku tak punya kuasa, untuk itu aku ingin memutuskan hijrah sejauh-jauhnya, tapi Tuhan belum memberi restunya, Tuhan masih ingin mengujiku sampai aku benar-benar kuat di tempa keadaan apapun.

Alasanku ke Malaysia selain menggugurkan janji kepada Almarhumah teman terbaikku, Desi Triatna Dewi yang ku yakini dia sudah menjadi Bidadari syurganya Allah, Tuhan yang memiliki segalanya, dan memenuhi janji kepada Munawier yang sejak 2018 ingin bertemu dengannya. Aku juga ingin mengadu nasib di tanah perantauan, agar aku bisa menafkahi keluargaku, mengganti segala kehilangan dan kerugian yang sudah banyak Bapak korbankan demi aku. Posisi yang sangat sulit, aku meninggalkan Bapakku, akupun meninggalkan orang-orang yang banyak mendukungku, antara yakin dan tidak yakin dalam menjalaninya, seperti di batas ambang dan tak karuan. Meringis kesakitan, menyulam dan menambal luka sendiri, perih dan lirih.

Bungkam

seperti berada di kota mati

semua tak bisa di ajak berkompromi

tak ada satupun yang mengajak berbincang

tak ada satupun yang menoleh dengan riang

tak ada gelak tawa yang tenang

aku merundung, membisu dalam kelam

mencoba menaklukan angkuhnya fikiran

tak sanggup aku menaklukan

aku memilih mundur tanpa peringatan

aku memilih hilang dalam ingatan

aku memilih bungkam dalam paksaan

meminta tak dipinta

memaksa tak dipaksa

pergi telah pergi

hempas terhempas dan dihempas

hilang menghilang

acuh tak acuh

Rizqo Uthami

 

Tidak hanya soal pekerjaan yang sering dipertanyakan keluarga besarku,  tetapi perihal pasangan hiduppun kerap kali ku dengar lontaran pertanyaan “kapan nikah” berulang-ulang, banyak orang terdekatku yang memiliki niat menjodohkanku dengan sanak saudara mereka, sampai pada akhirnya aku diberi saran dan didaftarkan untuk ikut pada agen taaruf, agar menjadi salah satu ikhtiar mencari pasangan hidup. Awalnya aku ragu dengan hal tabu seperti ini, tetapi kawanku berucap ini merupakan salah satu cara sebagai ikhtiar yang selama ini keluarga inginkan, yaitu menikah. Setelah didaftarkan, CV terupload pada keesokan harinya banyak yang memfollow akun instagramku, tidak hanya itu CV para pesertapun masuk satu persatu melali direct message dan whatsapp, seketika aku bingung dan menggerutu “apa-apaan ini, kenapa jadi seperti ini?” gumamku dalam hati dan masih tercengang dengan perubahan followers dan masuknya pesan di instagram atau whatsapp. Dari ratusan CV yang masuk tidak ada satu orangpun yang membuatku tergetar untuk membuka hati, malah aku jadi semakin ragu, mengapa sampai ada agen seperti ini, bukankah jodoh itu urusan Allah. Sampai pada akhirnya ada dua orang laki-laki yang bertahan dengan keacuhanku setelah mereka mengirimkan CV. Karena bertukar CV atau biodata diri secara lengkap merupakan syarat menjadi peserta taaruf dalam agen itu. Salah satu dari mereka ada yang bekerja sebagai audit bank, dan satu yang lain bekerja sebagai jasa ojek online. Tidak ada yang membuat hatiku tergugah, semua terasa biasa. Sampai pada akhirnya peserta yang berprofesi sebagai audit bank menyatakan keseriusannya kepadaku, lambat laun sikap dan perkataannya makin aneh. Tidak luput pasti selalu berdebat soal agama, atau membahas perihal sesuatu yang sangat sensitif, aku merasa risih dan geram, setiap dia bahas atau mempertanyakan hal tersebut, aku langsung merasa sakit kepala. Aku merasakan kekhawatiran yang mendalam ketika orang tersebut berusaha mendekat meski hanya melalui chat, dan tak pernah bertemu. Dan pada suatu hari ketika aku ingin pergi, dia meneleponku dan bertanya bagaimana aku. Aku menjawab dengan datar dan tidak berlebihan. Dan pada akhirnya kebohongan dan kehalusinasian orang tersebut terungkap sesuai firasatku, dia berucap saat itu dia sakit dan di opname di rumah sakit sejak semalam, padahal nyatanya pagi dia meneleponku dan memberi tahu dia sedang dirumah, dan siangnya pun dia beri tahu dia akan beristirahat, bagaimana mungkin dia di opname sedangkan dia telah memberi pengakuan sebelum dia melakukan kebohongan. Dari situlah aku memberikan keputusan untuk tidak melanjutkan proses taaruf kepadanya. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya, baik dari rasional maupun agama yang sebenarnya tidak sejalan dengan pemikiranku, bukan membandingkan aqidah dan keyakinan, tapi ini soal bagaimana seseorang menyikapi sebuah pendapat yang berbeda dari setiap sudut pandang, aku benar-benar tidak bisa menyangkalnya, sungguh geram. Aku memblokir semua kontaknya, tidak ada satupun nomer yang bisa dia hubungin. Dan ternyata dia begitu jahat, aku tidak pernah menyangkanya dia sejahat itu, sampai dia menyebar dan membagikan nomor ponselku di banyak grup biro jodoh di akun facebook. Ratusan panggilan dan pesan baik melalui SMS atau WA masuk ke ponselku, aku benar-benar marah dan kecewa atas perlakuannya seperti itu. Satu persatu aku memblokir nomor yang masuk, baik di WA ataupaun secara permanen di ponselku. Hingga akhirnya aku mengganti nomor ponsel untuk sementara waktu. Aku fikir dengan memblokir dan mengganti nomor dia berhenti menerorku, dugaanku salah dan sangat keliru. Dia menyerangku melalui pesan di email, seolah-olah aku telah melupakan kebaikan yang telah diberikannya. Kebaikan apa yang telah aku terima? sedangkan bertemu dengannya saja aku tidak pernah, sungguh ini di luar akal sehat.  Dan akupun memblokir email masuk darinya. Aku merasa sedikit tenang bisa menghindar dari orang berwatak seperti itu. Lelaki itu tidak hanya berhenti menggangguku sampai disitu, dia membuat tiga akun palsu instagram untuk bisa melacakku, mengirim pesan kepadaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa mealui dirrct message dan Line. Hingga aku memutuskan untuk menutup semua akunku di sosial media, baik Line, Facebook maupun Instagram agar aku bisa menghindar darinya. Aku semakin bungkam dengan ketidakwarasannya, apa yang ada difikirannya hingga dia tega melakukan hal bodoh yang meresahkanku seperti ini. Entah dia menderita depresi tingkat berapa atau mungkin memang dia salah satu pasien Psyco. Entahlah aku tidak tahu. Setiap hari aku was-was dibuatnya, menjadi takut dan gelisah dalam melangkah, aaaaaaaahhhhh menyebalkan.

Ternyata dugaanku salah, sangat salah. Aku berasumsi di dunia ini tidak ada orang jahat, apabila dia melakukan suatu tindakan yang salah, itu berarti dia keliru. Asumsiku salah tentang pernyataan tersebut, nyatanya kejahatan bisa datang kapan saja tanpa kita sadari. Aku benar-benar menyesal menjadi peserta taaruf, tidak seharusnya aku mengikuti saran dari temanku hingga aku kehilangan beberapa kontak untuk urusan pekerjaanku.

Setelah kejadian buruk itu, aku benar-benar merenung apa yang sebenarnya yang aku ucap hingga membuat orang lain nekat melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepadaku, mengusik hingga menerorku. Aku mengoreksi diriku sendiri, aku menangis sampai kehilangan suara, menyesali diri mengapa aku seperti ini, meskipun aku tahu ini memang sudah menjadi takdir Tuhan yang telah menyelamatkanku dari orang yang salah. Hingga sampai kapan aku bertahan, aku tidak tahu. Sebab saat ini aku merasa sangat rapuh, dan seolah tak sanggup untuk meneruskan perjuangan. Gumamku dalam hati yang tak kunjung berhenti menyesali.

————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *