Bertahan

Entah sampai kapan aku bisa bertahan, sedangkan perasaanku semakin terkoyak dengan keadaan.

Kala itu aku masih dalam proses penenangan diri setelah aku menerima teror dan gangguan yang dilakukan oleh laki-laki yang sempat aku tolak, aku masih termangu dalam ratapan pilu karena menyesali atas segala yang terjadi. Entah sampai kapan kekhawatiran dan ketakutan ini akan berakhir. Aku duduk di sudut kantor sekolah dengan wajah kusut yang bercampur sedih, mungkin dosaku terlalu besar hingga Tuhan memberikan sanksi seperti ini. Atau mungkin memang aku yang tidak bisa membedakan mana manusia yang baik ataupun tidak baik, semua tak bisa ku sangkal oleh akal sehatku.

Kejadian itu membuatku trauma kembali. Pekerjaan yang ku lakonipun menjadi berantakan, aku menjadi tidak fokus, konsentrasiku buyar dan tidak sesuai target yang kurencanakan. Sampai pada akhirnya aku mencoba memberanikan diri menghubungi Munawier, tujuanku hanya untuk bercerita tentang apa yang aku alami saat ini, sebab Munawier yang mampu mengembalikan gelak tawaku seperti sedia kala.

Kamis malam kala itu, aku mengirim pesan kepada Munawier, sebab aku khawatir akan menganggunya jika aku tak bertanya terlebih dahulu melalui pesan whatsapp. Sempat Munawier membalas pesanku selang beberapa jam kemudian, dan dia memang sedang sibuk mengira dan menghitung barang di kedainya. Aku menunggu sampai Munawier tidak sibuk, sampai akhirnya Munawier meneleponku melalui video call di whatsapp, Munawier sangat faham bagaimana aku jika mendapat masalah, aku anak yang cengeng dan mudah menangis, meski dia tahu aku memang kadang bersikap acuh tak acuh. Sebelumnya memang sudah kuceritakan kepada Munawier apa yang sebenarnya terjadi, hingga Munawier meledekku dengan senyumnya yang khas,

“Kamu si apa-apa itu gak hati-hati, lain kali gak usah mudah percaya orang yang gak dikenal, kamu itu cengeng kalo udah kaya gini”. Gumam Munawier dengan menggelengkan kepalanya yang menatap heran kepadaku.

“Yaa mana aku tahu kalau ujungnya bakal kaya gini, aku fikir laki-laki itu akan berlaku normal saat aku tolak, nyatanya aku malah di teror kaya gini”. Jawab gerutuku sambil memasang muka kesal dan menyesal.

“Yaudah, gak usah difikirin lagi, yang penting kalau ada call atau pesan yang berhubungan dengan orang itu kamu langsung blokir aja, kalau kamu balas khawatir dia makin gila. Jangan gitu lagi, kamu harus lebih teliti, iyakan udah terjadi juga mau gimana, sekarang fikirin aja gimana agar bisa lepas dari dia, masalah hobi menulis kamu keganggu yaudah maklumin aja, bisa di bangun dari awal lagi kok, dan kamu ambil hikmahnya aja yaa”. Sambung Munawier dengan diiringi senyum untuk menyemangatiku.

Aku hanya mampu mengangguk pelan saat Munawier berucap seperti itu. Tidak menjawab, tidak juga membantah. Munawier bagaikan mata air yang menghilangkan dahagaku, Sebab Munawier seketika mampu menenangkan segala kekhawatiranku, entah bagaimana dia bisa melakukan itu, saat melihatnya aku merasa tenang.

Aku sadari memang ini kesalahanku, tidak mengetahui gelagat buruk peserta taaruf itu,  hingga akhirnya semua berbalik menjadi boomerang untukku. Aku hanya mengira bahwa semua peserta taaruf yang memiliki perangai yang baik sesuai dengan syariat yang diajarkan agama, nyatanya aku salah, salah besar dan sangat keliru. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan tindakan konyol itu.

Beberapa minggu terakhir aku merasakan keanehan pada Munawier, mulai dari cara berkomunikasi hingga waktu yang tak pernah kosong untuk sekedar bertegur sapa. Aku benar-benar mengkhawatirkannya, sebab asap polusi kebakaran hutan di Riau pun sampai ke Kuala Lumpur, lokasi tidak jauh dari tempat tinggal Munawier. Sampai pada akhirnya aku bertanya kepada Munawier dengan nada lirih dan merasa tidak enak hati,

“Kamu kenapa akhir-akhir ini susah dihubungi? Kamu baik-baik aja kan? kamu gak kena imbas asap kebakaran hutan kan? atau kamu lagi ada masalah yaa?” Tanyaku spontan kepada Munawier, hingga dia tercengang.

Munawier hanya senyum, tidak menjawab pertanyaanku. Akupun bertanya sampai ketiga kalinya kepada Munawier,

“Kamu lagi kenapa? biasanya suka nanya lewat chat atau mudah dihubungi olehku, kamu lagi ada masalah? atau lagi dekat dengan perempuan lain?” pertanyaan yang sebenarnya membuat aku mencekik diriku sendiri.

“Aku baik-baik aja, aku cuma bingung mau cerita ke kamu mulai dari mana”. Tukas Munawier.

Seketika hening, akupun tak melanjutkan pertanyaan untuk Munawier, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya kembali,

“Aku didekatkan oleh orang tuaku dengan perempuan di kampungku, maka dari itu orang tuaku ingin aku segera menikah, seperti yang sudah dilaksanakan semua saudaraku, bukan aku menghindar atau menjauhi kamu, tapi aku takut kamu jadi kecewa kalau dengar cerita ini, aku ngerti gimana perasaan kamu, aku juga bingung awalnya kenapa kita bisa sedekat ini, tapi kamulah perempuan satu-satunya yang sangat dekat dengan aku, gak ada lagi, aku berani sumpah, kamu yang udah paham bagaimana aku, aku beneran bingung, ini kedua kalinya orang tuaku dekatkan aku dengan perempuan di kampung, kamu jangan sedih, kamu jangan cengeng yaa”. Jawab Munawier dengan wajah khawatir dan bingung.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, saat Munawier pamit dan meminta maaf untuk mengakhiri komunikasi kita malam itu. Suasana semakin genting dan hening. aku tak tahu harus berbuat apa usai Munawier mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, yang aku tahu aku harus membunuh rasaku yang dikikis waktu.

Teriring duka seketika aku merasakan lesu darah, jawaban Munawier meluluh lantahkan hati dan sesuatu yang sudah ku bangun sejak lama, terasa digantung oleh sesuatu yang tak bertali, tercekik dan sesak menggumpal di dada. Ternyata aku benar-benar jatuh cinta kepada Munawier, jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku tidak bisa bangun dari mimpiku, aku telah tersesat di mimpiku sendiri, entah bagaimana aku sekarang ini, semua sudah menjadi firasatku kala itu saat aku berucap kepada Munawier bahwa aku ingin menjumpai orang tuanya di kampung. Aku berhenti berharap dan aku telah kalah dengan keadaan.

Perlahan memang aku harus dengan terpaksa melupakan Munawier, aku kesulitan mengendalikan rasaku yang sudah sejak lama ku endapkan pada Munawier. Munawier memang lelaki yang pandai membaca keadaan, tanpa ku bercerita bagaimana rasaku, Munawier mampu menggambarkan bagaimana perasaanku. Waktu telah membuatku terlena, tanpa terasa sampai ku tak tersadar bagaimana aku dan dirinya sekarang. Semua hanya menjuntai indah di batas ambang, tak tersentuh dan tak terlihat, tak terungkap dan tak terucap, rapuh, lirih dan lusuh.

Bertahan

ini bukan perkara tentang siapa yang menjauh siapa yang mendekat dan siapa yang masih bertahan.

ini perkara bagaimana aku mempelajari upaya tahu diri.

karena sejatinya aku sedang berusaha memahami diantara bagaimana aku pada sudut pandangmu, dan bagaimana kamu di sudut pandangku.

aku tidak bisa mengelak dari kejadian yang membuat air mataku terisak jatuh berguguran.

aku semakin tak tentu arah ketika kamu berlari meninggalkanku sejauh mungkin.

siapa aku saat ini tak bisa ku tafsirkan pada cermin hitam kelam yang ku ukir sendiri, yang membuatku terhempas tak berdaya saat semuanya menghindar tanpa pamit.

aku telah berlaku tidak adil pada diriku sendiri, hingga ku tak bisa berpijak kuat di kota yang semakin lama semakin membenci.

Lantas apa aku masih harus bertahan?

bisa iya bisa tidak, aku tidak tahu, aku tak bisa banyak berfikir.

seketika mesin rolong waktu berhenti mati, hening dan semakin tak terdengar suara detupan dan desah nafas yang selama ini setia menemani.

Rizqo Uthami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *