Awal yang Belum Berakhir

Awal yang Belum Berakhir

Siang itu aku memang benar-benar kalut saat aku meninggalkan Sungai Buloh, aku memutuskan untuk kembali ke Ampang, menemui Munawier dan rencana pamit ke Jakarta. Di perjalanan pun air mata tidak bisa terseka dan tertahan, ia terus berjatuhan tanpa kompromi, entah apa konflik batin yang terjadi sampai aku merasakan rapuh seperti ini. Munawier yang memintaku untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi, hingga pada akhirnya Munawier mendapatiku sedang tidak baik, menangis dan semakin sangat kacau. Munawier pun bingung sebenarnya ada apa dan apa yang terjadi denganku sampai aku serumit itu. Munawier selalu bertanya perihal makan, karena dari siang aku tidak mau akibat kondisi hati yang tak menentu.

“kamu ini kenapa si? aku bingung kalau kamu kaya gini, nangis tanpa sebab tapi gak mau cerita ada apa! Jangan cengeng laah” Ucap Munawier dengan penuh kebingungan dan mulai geram melihatku seperti itu. Aku diperintah untuk balik ke Jakarta segera oleh Munawier, karena dia tidak tega melihatku seperti ini yang tidak memiliki siapa-siapa. Aku dibelikan tiket pesawat menuju Jakarta oleh Munawier dengan jadwal keberangkatan Jumat pukul 18.25 waktu Malaysia. Saat aku di Ampang semua Munawier yang bertanggung jawab, entah hatinya terbuat dari apa sampai dia memiliki perangai sebaik itu. Walaupun sebenernya aku sudah tidak ingin mencarinya lagi disaat dia telah bertemu dengan perempuan masa lalunya, memang kadang hati mudah berbolak-balik.

Ceritaku belum berakhir sampai disini, ini baru awal, semua masih tertahan dalam fikiranku, sampai mana aku harus melangkah, meneruskan perjalanan atau berhenti tanpa pamit. Mungkin mimpiku terlalu tinggi, sampai aku lupa bahwa sayapku telah patah sejak lama. Di hari terakhirku Selama di Ampang aku banyak melamun dan termangu, dan tidak tau tindakan apa yang harus aku tempuh, hanya bisa diam, mendengarkan perkataan Munawier tapi tidak menyimak dan memaknai apa yang dia bicarakan, seperti hilang arah, seperti tersesat di hutan belantara. Aku menepis dan tak hiraukan pun tak mampu aku lakukan saat itu. Hanya saja aku terlalu berambisi atas apa yang aku cari selama ini. Egosentris yang mengalahkan akal sehatku, sehingga aku menempuh jalan sejauh ini, aku telah kalah dengan keadaan. Banyak yang menyatakan bahwa kegagalan  merupakan keberhasilan yang tertunda. Menurutku kegagalan merupakan peluang untuk aku mengambil kesempatan lain, mencari apa yang diri ini inginkan dan butuhkan, bukan begitu?

Fitrahku sebagai seorang wanita telah kuabaikan, aku pergi tanpa didampingi semuhrimku, sesuai yang dianjurkan dalam syariat agamaku. Nasi memang sudah menjadi bubur, memang masih bisa dinikmati, meski tak senikmat memakan Nasi. Hambar dan tak begitu berarti.

Wajar atau tidak jika aku menginginkan untuk hijrah dari tanah kelahiran menuju tempat dimana aku tidak mengetahui sebelumnya, tujuannya agar aku lekas mendapatkan ketenangan dan ketentraman, tapi nyatanya setir yang sudah aku banting itu malah berbalik arah kepadaku, kini aku masih dalam keadaan dilema untuk menentukannya.

Awalnya aku merasakan kesesakan saat aku meninggalkan Kota Ampang setelah ku mengetahui bahwa kenyataannya yang terjadi, aku mengharapkan suatu yang berbanding terbalik, perasaanku begitu ambigu, entah dengan cara apa aku mengartikan itu semua lebih dari segala dugaanku. Aku bersalah dan sangat keliru. Tapi semua tidak membuatku menghentikan langkah.

Aku pamit kepada Munawier, dengan perasaan timpang sebelah, berat dan menyedihkan. Aku mengikuti sarannya untuk kembali ke Jakarta, itu semua demi kebaikanku. Karena memang sejatinya aku belum mengetahui track kondisi kehidupan nyata di Negeri Jiran tersebut, menurut Munawier, nyaliku masih sangat kecil, aku masih terlalu lemah untuk berdiri diatas kaki sendiri di Negara yang belum berpihak kepadaku. Munawier masih memberikan kesempatan untukku di lain waktu, sambil mengumpulkan modal dan keberanian yang akan membuatku bertahan suatu saat nanti. Munawier memang sosok yang bertanggung jawab, dia tidak pernah meninggalkanku meski aku akan kembali ke Jakarta. Kharismatik kepemimpinannya sudah terlihat jelas, dia benar-benar membuatku tersipu dan tertunduk malu.

Sejak pukul 09.00 aku sulit menghubungi Munawier, sampai mendekati check out pukul 12.00 dari hotel tempatku beritirahat dihari terakhirku di Kota Ampang, aku menangis karena takut aku tidak bisa pamit dan menemui Munawier, sampai lima puluh dua kali aku mengubunginya, Munawierpun telah terhubung,

“Hallo, iya kenapa? kamu udah check out? aku baru bangun”.  dengan nada datar bangun tidur, dia menjawab telepon dariku.

“Ka ka mu dii manaa sii? a aku kaan maau puulang, a aku kaan gaak tau harus kemanaa lagii, ka ka mu ce pee tan ke sini”, Jawabku terbata sambil menangis ketakutan, khawatir Munawier tak akan menemuiku.

Mataku panjang menanti kedatangan Munawier didepan hotel setelah aku check out, dua puluh menit kemudian Munawier datang dengan mengenakan kemeja fanel biru, warna kesukaanku.

“belum pesan grab kan? kita makan dulu yaa, nanti kamu laper di bandara tunggu pesawat pasti lama”. Ucap Munawier sambil mengajakku untuk menaikki motor yang dia kendarai.

Aku hanya diam dan malu dengan mata sembab usai nangis, lagi-lagi aku dibilang cengeng oleh Munawier, Munawier bilang aku terlalu perasa, sensitif dan mudah salah faham, maka dari itu Munawier sangat hati-hati saat berbicara denganku. Bijak kan dia? hehehe.

Setelah dipesankan makanan, aku meminta Munawier untuk mengambil gambar kita berdua, Munawier memang orang yang introvert, tidak percaya diri jika diajak foto dengan perempuan. Tapi kali ini aku berhasil mengambil gambarnya, meski harus di bujuk berkali-kali.

“Makan yang banyak, badan udah kurus, dari siang kemarin tu kamu gak makan, entah apa kamu tu aneh”, ucap Munawier sambil melihatku geram.

Aku hanya bisa melihat dan mengangguk kesal karena sejak kemarin Munawier menjadi lebih aktif berbicara, mungkin karena aku badmood dan selalu diam saat diberi pertanyaan oleh Munawier, jadi banyak nasihat dan saran yang dia berikan.

Akupun pamit menuju bandara KLIA, Munawier tak bisa mengantarku karena dia harus sholat Jumat, aku memaklumi karena itu kewajibannya sebagai seorang laki-laki. Aku diberikan ongkos oleh Munawier, khawatir uangku tidak cukup untuk membayar grab yang aku tumpangi menuju bandara.

Dalam perjalanan aku mengirim pesan kepada Munawier,

“Aku berat ninggalin kota ini, karena harapan dan cita-citaku masih tertahan, kalau aku mau ketemu kamu caranya gimana? kalau nanti memang ada kerja kosong, beritahu aku yaa”. Pesan yang kukirim kepada Munawier dengan emoticon sedih.

“Iya nanti ku kabari, Entah apa kaya bocah aja nangis terus, nanti kan bisa jumpa lagi, kamu hati-hati yaa”. Balasan singkat dari Munawier yang buatku selalu geram.

Selama perjalanan, tertanggal perasaanku di Kota Ampang. Seperti tersedak saat aku hendak menelan, terada ganjal dan ganjil. Entah apa yang akan dilontarkan orang tuaku nanti ketika melihatku kembali, aku malu karena perjuanganku terhenti saat ini, aku tidak bisa memaksa diriku untuk melanjutkan, karena aku ingin merubah segalanya di negara itu, tempat yang menjadi plilihanku setelah berbagai pertimbangan. Mungkin saat ini memang Tuhan belum merestui keinginanku, tapi aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik diwaktu yang baik. Sama halnya saat aku diberi kesempatan untuk bertemu Munawier.

Tiba di Kota kelahiranku, setelah bis damri mengantarku sampai ke terminal dari bandara Soekarno-Hatta, bapak sudah menunggu kedatanganku, bapak yang menjemput di terminal bis. Aku langsung memeluk bapak dengan erat, meminta maaf karena apa yang aku inginkan belum tercapai, sangat malu dan aku melemah dipelukan bapak. Aku tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada bapak, karena Munawier telah memberi nasihat dan peringatan untuk menyembunyikan apa-apa yang aku dapati tidak baik saat di Malaysia. Bapak menyeka air mataku dan menepuk pundakku yang mulai melusuh.

“Jangan lemah, nanti juga ada kesempatan lagi pergi kesana”. Ucap bapak menguatkanku. Kamipun pulang menuju rumah.

“kalau sudah sampai rumah, kamu langsung istirahat yaa, gak usah telponan dulu, soalnya aku mau keluar”. Pesan singkat dari Munawier ketika ku baru tiba di rumah. aku hanya tersenyum, dan beruntung aku temui orang sebaik Munawier.

Tiga hari telah berlalu Kota Ampang dan Sungai Buloh di pelupuk mataku, tapi aku masih menaruh harapan untuk aku meneruskan perjuangan dan hijrahku di negeri itu. Semoga Tuhan segera memberikan restu dan kesempatan itu. Aamiin.

Meski sudah di Jakarta, aku masih berkomunikasi dengan Munawier, seperti biasa dan seperti sedia kala, tak ada yang berubah dan masih terasa sama.

——————

#Untuk El di Kala itu#

Saat itu aku sedang menyukaimu, mengagumimu dan mulai tertarik padamu.

Tetapi aku tak mampu berbuat sesuatu, yang mengajakku ingin merayu.

Ku hanya mampu menatapmu di suatu sudut mataku,

Ku hanya mampu menjagamu pada setiap bait doa yang kulangitkan.

Sempat ku merasa terlambung dengan sikapmu, menafsirkan sesuatu yang sebenarnya itu semu.

Aku tertegun malu.

Merasa diri paling lugu.

Ironinya ku telah terperangkap dalam angan bualanku.

Hingga ku terdampar rapuh di sudut ruang yang sembilu.

Nyatanya, ku takkan sanggup masuk ke tempat yang sudah kau tutup rapat.

Sebab kau masih terjebak di situasi yang selalu kau ingat.

Masa yang selalu merekat erat.

Masa yang mendekapmu hangat.

Masa yang telah mendarah daging begitu pekat.

Entah kebodohan apa yang telah kubuat, hingga ku sulit untuk menyudahi kisah yang telah sekarat.

Entah mengapa????

 

terkadang waktu yang singkat, justru menyisahkan rasa yang begitu kuat.

Tertanda,

Rizqo Uthami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *