Ashita Ga Aru Sa

Ashita Ga Aru Sa

Karena harus ada hati yang diselamatkan, ketimbang berjuang sendirian yang tak berbuah kebahagiaan, bukan tak percaya kehendak Tuhan saat doa disematkan, kadang kala ada sesuatu yang harus selaras dengan nalar, bahwa menyelamatkan lebih berarti dari pada bertahan sendirian.

Bertegur sapapun sudah tak lagi ku lakukan kepada Munawier, entah apa yang membuat ku segila ini kepadanya, sampai saat ini aku belum mampu meregangkan Munawier dalam fikiranku. Munawier memang orang yang sangat berbeda, tidak seperti laki-laki pada umumnya. Dia memang terlalu baik bahkan sangat baik, meski sikapnya kadang membuatku jengkel dan geram.

Pada malam itu, aku memberanikan diri menelepon Munawier, karena yang saat itu aku butuh dia, butuh didengarkan, dialah pendengar terbaikku.

“Lagi sibuk bang? Nak ganggu awak sekejap, boleh?”, ucapku tak semangat.

“Boleh, ada apa?, ada yang buatmu gak nyaman lagi?”, sambut Munawier menyemangati.

Akupun bercerita panjang kali lebar layaknya mencari luas permukaan suatu bidang dalam rumus matematika, dengan nada merengek khas ku yang membuat Munawier sedikit geram, sebab Munawier tidak menyukai sifat cengengku.

“Jangan cengeng, jangan lemah, aku gak suka kamu kaya gitu, di saat kita gak tenang, gak ada yang perlu kita ceritakan kepada siapapun, cukup istighfar dan mohon petunjuk Allah, kamu ingat kan ketika aku lagi gak tenang, kamu yang selalu ingati aku seperti itu, Insyaa Allah kamu baik-baik aja, dan mudah-mudahan gak terjadi apapun yang tidak menyenangkan”. Sambut Munawier menenangkanku.

Matanya begitu syahdu menenangkanku saat itu, maka dari itu aku memutuskan untuk menghubunginya saat mendapati diriku menjadi sisi lain. Munawier lah yang memahami dan menuruti rengekan cengeng aku disaat aku benar-benar muram, karena menurutnyaa itu hal yang wajar yang dialami sebagian besar perempuan, maka dari itu tidak heran aku sering di juluki “si cengeng”.

Akupun mengakhiri pembicaraan dengan menutup telepon, dan Munawier melanjtkan aktifitasnya.

Di lain hari di saat aku sedang bersantai, aku dapati Munawier tiba-tiba berbicara padaku, dengan wajah sendu yang tak biasa dia tunjukkan ke siapapun,

“aku ada salah ngomong yaa ke kamu?”, gumam Munawier lirih.

“salah ngomong gimana maksudnya? aku gak ngerti”, timpalku dengan bingung.

Tiba-tiba hening, aku dengan banyak menerka-nerka maksud yang diucapkan Munawier.

“iyaa maksudnya gini, aku ada salah ngomong gak ke kamu? karena respon kamu kaya gitu, gak kaya biasanya, aku minta maaf yaa”,

“kamu gak ada salah ngomong apa-apa bang, hanya saja aku membatasi semuanya, karena sekarang aku harus pandai memposisikan diri bagaimana dan siapa aku di hidup kamu, bukan berarti aku gak merespon apalagi cuek, aku masih memerhati dan memantau kamu kok, gak usah khawatir”,

“aku takut aku salah ucap, buat kamu tersinggung atau sakit hati sebab perkataanku”,

“aman bang, gak usah lebay, aku baik-baik aja kok”,

“gak Ta, kamu gak baik-baik aja, aku tau itu, kamu cuma pura-pura seolah semua baik-baik aja, padahal kenyataannya kamu hancur sebab aku”,

“gak lah ngaco kamu, gak usah sok tau, aku baik-baik aja kok”,

“kita gak bisa terus-terusan kaya gini, aku gak bisa berlaku gak adil buat kamu Ta, aku harus benar-benar hilang dari hidup kamu”,

“kok kamu ngomongnya gitu bang? apa aku ada salah?”,

“kamu gak salah Ta, aku yang merasa bersalah dalam posisi kaya gini, gini yaa aku jelasin ke kamu kenapa aku harus pergi, semisal nih yaa aku berdiri di depan rumah kamu tepat di depan pintu kamu, tapi diam aja gak melakukan apa-apa, itu sama aja aku menghalangi orang lain untuk masuk ke rumah kamu, sama halnya aku menghalangi orang lain masuk ke hati kamu karena terhalang aku, aku gak mau dihantui rasa bersalah seumur hidup aku, makanya lebih baik aku benar-benar hilang dari hidup kamu”,

“tapi kan kenyataannya gak kaya gitu bang, itu kan menurut fikiran kamu, gak seperti yang aku alami, kamu terlalu berlebihan”,

“aku gak berlebihan, tapi memang kenyataannya kaya gini, kamu menyangkalnya Ta, jangan tutup hati kamu untuk orang lain berkesempatan hadir dalam hidup kamu, kita gak bisa terus-terusan kaya gini, terlalu berlarut menurut aku, meskipun aku nanti sudah punya kehidupan baru dan keluarga baru, kamu tetap orang yang spesial di hati aku, kamu punya ruang sendiri yang orang lain gak bisa masuk dan ganggu itu, aku cuma bisa berdoa sama Allah supaya kita di pertemukan di kehidupan lain, mudah-mudahan kita tetap menjadi teman sampai Syurga, aku sangat berharap itu, maafin aku Ta, aku mohon pamit”.

Munawier berlalu pergi meninggalkanku, tubuh tegapnya lama kelamaan hilang dari sudut mataku. Aku hanya tertegun memandangnya, tanpa menyambut dengan komentar apapun yang membuat penyangkalan ucapannya secara seketika, lidah ku keluh tak mampu berucap, tak mampu berkata sekatapun, tak mampu menyangka mengapa Munawier secepat itu hilang, mengapa semuanya jadi seperti ini, tidak sesuai dengan ekspektasi dan praduga ku. Air mataku tak sengaja terjatuh, perasaan lirih yang tak bisa kujelaskan kepada siapa-siapa, aku seperti lesu darah dan kehilangan arah karena semuanya terjadi terlalu singkat. Mengapa seperti ini, aku hanya kawan biasa, diapun sama, mengapa dia begitu khusus dalam hidupku. Aku tak dapat menyangkal, inilah jalan hidup karena hidup adalah sebuah pilihan, harus ada yang dipilih dan harus ada yang dikorbankan.

Aku menjalani kehidupanku normal seperti biasanya, tidak banyak komentar atau mengganggu Munawier seperti yang sudah-sudah yang aku lakukan, Munawierpun memahami kesibukanku sebagai seorang pengajar di beberapa tempat. Setelah kejadian itu kami jarang bertegur sapa secara intens, hal ini aku lakukan agar aku bisa menjaga jarak dan tidak mengganggu Munawier yang sebentar lagi akan menikah dengan pilihan hidupnya.

Aku bahagia ketika Munawier menyampaikan pesan dia akan segera menikah, tetapi di sisi lain aku merasa amat sangat kehilangannya, karena tidak akan lagi ku dapati seseorang yang benar-benar memahamiku, tidak akan lagi ku ganggui ketika aku ingin berkomunikasi, semua sudah tersekat penghalang besar seolah kita sama-sama harus mundur perlahan secara teratur. Setidaknya aku telah mengisi kekosongan ruang hampa dalam hidup Munawier yang selama ini yang membuatnya tidak tenang, membuat fikirannya kacau sebab masih dihantui rasa bersalah dari kejadian masa lalunya.

Sejatinya, tidak ada pesaing di diri kita sendiri ketika orang lain berusaha untuk dekat, mereka hanya berkompetisi dengan zona nyaman kita, jika ada yang bisa mengalahkan zona nyaman kita, maka itulah yang selama ini kita cari.

Tugasku telah selesai sebagai seseorang yang bisa sedikit membantunya bangkit dari keterpurukan. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian Munawier, meski aku belum rela kehilangan Munawier seutuhnya. Perjalanan hidup kami masih terlalu panjang, masih banyak yang harus kami capai dan tata, tidak melulu bersedih dan bermuram durja meratapi kehilangan masing-masing dari kami.

Kita sama-sama harus berjuang mencapai mimpi, mencapai apa yang belum dicapai. Pada hakikatnya manusia boleh bermimpi, asal bukan berangan, sebab mimpi bisa kita capai dengan doa, ikhtiar dan tawakkal, sedangkan angan hanya sebuah lamunan omong kosong tanpa tindakan. Teringat ucapan dari seorang sastrawan jepang Ashita Ga Aru Sa (Masih Ada Hari Esok), jangan menyerah dengan suatu pilihan, karena masih ada pilihan yang lain yang harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *